15 May 2012 Comments Off

Sekilas Pengertian Ruh, Jiwa dan Nafs

 Ada yang bertanya sohib FB via Inbox perihal Roh, Jiwa dan Nafs, sedikit saya coba jawab sebelumnya mohon maaf bila banyak kekurangan karena keterbatasan saya.
Sering kita mendapati kata-kata atau kalimat bahasa Indonesia yang tidak mampu mengisi makna atau padanan kata yang sesuai dengan bahasa Arab, Inggris, atau Perancis. Sehingga sampai sekarang kita terkadang bingung dengan istilah-istilah asing yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi rancu dan aneh. Seperti pada kata qalb, diterjemahkan menjadi hati, hati kecil, hati nurani dan lain-lain seakan-akan hati itu ada beberapa macam lapisan, sebenarnya qalb itu sifat dari jiwa, dan jiwa itu termasuk An nafs (badan, sosok, wujud /berwujud /berbentuk /berupa).
Disini sepertinya ada kekeliruan, “An Nafs” hanya diartikan Jiwa, padahal badan rahasia ini pun disebut An nafs (sosok, wujud kasar/ badan kasar). Roh adalah rahasia Tuhan yang di tiupkan kepada nafs (jiwa atau badan). Roh ini menyebut dirinya AKU, yang disebut bashirah (yang mengetahui atas jiwa, qalb, rahasia dan lain-lain. – lihat tafsir Shafwatut Attafaasir surat Al Qiyamah: 14).

Baiklah agar tidak bingung, mari kita bahas satu persatu menurut dalil qoth’i.

Apakah roh itu ?
Mengapa Allah merahasiakan Roh dan mengaitkannya dengan Roh-Nya, dan didalam Alqur’an
termasuk kelompok ayat-ayat mutasyabihat (makna yang dirahasiakan), karena pada ayat tersebut terdapat kalimat Roh manusia adalah Roh yang ditiupkan dari ROH-KU (Min ruuhii) arti harafiahnya adalah Roh milik Allah. Akan tetapi para mufassir menterjemahkan Roh ciptaan
Allah.

Saya tidak berani menafsirkan karena dari segi tata bahasa ayat ini termasuk kalimat mutasyabihat, tidak ada menunjukkan bahwa Roh itu ciptaan Allah, karena itu saya tidak berani menterjemahkan kalimat ini – sebab Allah sendiri melarang meraba-raba atau mereka-reka separti apa roh itu .Kecuali hanya boleh merasakan bahwa di dalam diri ini ada yang melihat (bashirah) setiap gerak-gerik jiwa dan pikiran serta perasaan kita. Dan bashirah bersifat fitrah (suci) karena ia selalu bersama dan mengikuti amr-amr (perintah) Tuhannya.

“Maka apabila telah Aku menyempurnakan kejadiannya dan telah kutiupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al Hijr,29)

An Nafs adalah yang memiliki bentuk atau wujud atau susuk yang tergambarkan, yang diciptakan dari unsur alam yaitu min sulaatin min thiin (ekstrak alam), sedangkan Roh bukan tercipta dari unsur alam ataupun dari unsur yang sama dengan Malaikat maupun Jin, sehingga mereka hingga kini tidak mengetahui dari unsur apa roh manusia diciptakan. Bahkan Allah membiarkan para Malaikat dan Syaitan tak berhenti berfikir penasaran, apakah gerangan yang menyebabkan manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dari bangsa malaikat dan Syaitan serta makhluk-makhluk yang lainnya, Allah hanya berkata :

“Inni a’lamu maa laa ta’lamuun … Aku lebih mengetahui dari apa-apa yang kalian tidak ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30).

Para malaikat protes atas kebijaksanaan Allah yang dianggap tidak masuk akal, dengan perasaan ragu mereka akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya kepada Allah … taj’alu fiiha man yufsidu fiiha wayasdikuddimaa’wanahnu nussabbihu bihamdika nuqaddisulaka?

Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakkan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senatiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?

Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30 )

Rahasia roh ini ditegaskan oleh Allah dalam surat Al Isra’ : 85

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh, katakanlah : Roh itu termasuk urusan-Ku (amr-Tuhanku) dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit .”

Seperti apa yang sebutkan diatas saya tidak berani menafsirkan, apakah Roh itu, apa lagi menterjemahkan sebagai Roh ciptaan-Ku. Saya akan tetap mengikuti arti lafadz aslinya yaitu Ruuhii (Roh-Ku) karena disana disebutkan kalian tidak memiliki pengetahuan tentang Roh kecuali hanya sedikit sekali.

Dan roh ini memiliki sifat yang Mengetahui, seperti pada surat : Al qiyamah ayat : 14 “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri (nafs). Di dalam nafs (diri) manusia ada yang selalu tahu, yaitu Aku. Yaitu Roh manusia yang menjadi saksi atas segala apa yang dilakukan nafsinya (diri). Ia mengetahui kebohongan dirinya (nafs), kemunafikan, rasa angkuhnya, dan rasa kebencian hatinya. Karena itu sang roh disebut min Amri rabbi – selalu mendapatkan intruksi-instruksi Tuhan-Ku. Mengapa demikian ? karena ia tidak pernah mengikuti kehendak nafsunya dan tidak pernah menyetujuinya tanpa kompromi sedikitpun.

Ialah disebut fitrah yang suci, dan fitrah manusia selalu seiring dengan fitrah Allah (QS.Ar Rum:30)

Jadi jika manusia mengikuti fitrahnya, maka ia akan selalu mengikuti kehendak illahi.

Kemudian Apakah Nafs itu ? Nafs mempunyai beberapa makna :

Pertama, Nafs yang berkaitan dan tumpuan syahwat atau hawa (hawa berasal dari bahasa Arab yang tercantum dalam Alqur’an, wanaha An nafsa `anil hawa – dan ia menahan dirinya (fisiknya) dari keinginannya (hawanya) (An Nazi’at : 40-41). Yaitu hawanya mata, hawanya telinga, hawanya mulut, hawanya kemaluan, hawanya otak dan lain-lain. Hawa-hawa atau syahwat, selalu berkecenderungan kepada asal kejadiannya iaitu sari pati tanah – dengan demikian An nafs berarti fizik (tanah yang diberi bentuk). Dia akan bergerak secara naluri mencari bahan-bahan unsur asal fiziknya, ketika kekurangan energi atau kekurangan unsur-unsur asalnya maka ia akan segera mencari atau secara naluri ia akan berkata, saya lapar, saya haus !!

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari ekstrak yang berasal dari tanah.” (QS. Al Mukminun:12)

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang berstruktur (berbentuk), maka apabila Aku telah meniupkan kepadanya Roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al Hijir: 28-29)
An nafs arti fisik yang mempunyai bahan dari ekstrak tanah yang mempunyai bentuk .

Kedua, An Nafs berarti : Jiwa ,- jiwa mempunyai beberapa sifat,
Nafs Lawwamah (pencela),
Nafs Muthmainnah (tenang), Nafs Ammarah bissu’ (sentiasa menyuruh berbuat jahat).
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah ….. (QS. Al Fajr : 27-28)
Wala uqsimu binnafsil lawwamah …(QS. Al Qiyamah:2)
Wama ubarriu nafsii, innannafsa laammaratun bissuu’ (QS. Yusuf:53)

Sedangkan Qalb, artinya sifat jiwa yang berubah-ubah, tidak tetap. Terkadang ia bersifat muthmainnah, kadang juga lawwamah, atau berubah menjadi ammarah bissuu’ Watak seperti inilah yang dimaksud dengan QALB (berbolak-balik), jadi keliru kalau dikatakan qalb itu adalah wujud karena dia bukan jiwa, akan tetapi merupakan sifatnya jiwa yang selalu berubah-rubah.

Jiwa yang mempunyai sifat berubah-rubah inilah, dinamakan Qalbun sedangkan jiwa yang selamat disebut Qalbun salim (selamat dari sifat yang berubah-rubah)- illa man atallaha biqalbin saliim – kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (QS. Asy Syura: 89)
An nafs (jiwa ) memiliki alat-alat, Pikiran, Perasaan, Intuisi, Emosi, dan Akal. Sedangkan An Nafs (fisik) memiliki alat-alat : Penglihatan (mata), Pendengaran (telinga), Perasa (lidah), Peraba, Penciuman (hidung).

Selanjutnya saya akan menguraikan kitab Barnabas berikut ini :

“…kemudian berkata Isa, demi Allah pada hadirat-Nya Rohku berdiri, banyak yang sudah tertipu mengenai kehidupan kita. Karena demikian saling merapatnya antara Roh dan perasaan telah berhubungan bersama, hingga sebagian besar manusia mengiyakan Roh dan perasaan itu menjadi satu dan hal yang sama, hanya terbaginya dalam penugasan sedangkan tidak dalam wujud, menyebutkannya sensitive (rasa perasaan), vegetative (tubuh yang tumbuh) dan intellectual soul (Roh berfikir, cerdas akal). Tetapi sungguh aku katakan kepadamu, roh itu adalah satu, yang berfikir dan hidup. Orang-orang dungu, dimanakah akan mereka dapatkan roh akal tanpa kehidupan ? tentulah keadaan ketidaksadaran, apabila rasa perasaan meninggalkannya.”

Thaddeaus menjawab, “O Guru, apabila rasa perasaan (sense) meninggalkan kehidupan (life) seorang manusia tidak mempunyai kehidupan.”

Ayat diatas menjelaskan banyak orang tertipu mengenai kehidupan, sesungguhnya Roh itulah yang menyebabkan orang itu hidup dan berfikir dan memiliki perasaan (sense), tubuh yang bergerak dan tumbuh, berfikir dan berakal. Semuanya itu karena adanya Roh. Dan Thaddeaus menyimpulkan bahawa jika manusia tidak memiliki Roh maka tidak akan ada kehidupan pada dirinya. Berarti rasa (sense) intellectual soul merupakan instrument roh.

Kemudian pada pasal 123
Ketika semua duduk, Isa berkata lagi, ALLAH kita untuk memperlihatkan kepada makhluk-makhluk-Nya kasih sayang-Nya dan rahmat serta Maha Kuasa-Nya, dengan Maha pemurah dn Maha Adil-Nya, membuat sesunan dari empat hal berlawanan yang satu dengan yang lain, lalu menyatukannya dalam suatu tujuan ahkir, itulah manusia dan ini adalah tanah, udara, air dan api. Supaya tiap-tiap satu sama lain menenangkan pertentangannya. Dan dari empat benda ini, dia menjadikan sebuah kendi (bejana) itulah tubuh manusia, daging, tulang-tulang, darah, sum-sum dan kulit dengan saraf-saraf dan pembuluh-pembuluh darah, dan dengan semua bagian-bagian dalamnya; dalam tempat itu Allah meletakkan ROH dan rasa perasaan, laksana dua tangan dari hidup ini. Memberikan tempat kepada rasa perasaan pada setiap bagian tubuh untuk itu menebarkan dirinya disana separti minyak. Dan kepada Roh, dia memberikan untuk tempatnya hati, yang bersatu dengan perasaan, dialah akan menerima seluruh kehidupan itu.

Ayat ini menerangkan penciptaan manusia seperti terdapat di dalam Al Qur’an surat Al Hijir 28-29, sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Roh-Ku , maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud ,
Surat Al mukminun: 12 , berasal dari ekstrak tanah

Surat Al hajj : 5, manusia dari turab (berupa debu)
Surat Ar Rahman : 14 , dari tanah liat yang kering separti tembikar.
Pasal 179, dikatakan Roh itu bersifat universal dan besarnya 1000 kali lebih besar dari seluruh bumi.

Sebenarnya pasal ini hampir sama dengan keterangan saya pada bab hakikat manusia, bahwa jiwa adalah bersifat sangat luas dengan identitas dirinya yang dipanggil sebagai feminin karena sifatnya yang universal – Ya Ayyatun nafsul muthmainnah – wahai jiwa yang tenang. Penggunakan Ya nida’(Ayyatuha) atas jiwa sebenarnya biasa digunakan untuk memanggil wanita, juga untuk panggilan (nida’) sesuatu yang sangat luas berdasarkan dalil kullu jam’in muannatsin – sesuatu yang bersifat universal atau luas disebut muannats (feminin).

Misalnya, jannatun (syurga), samawat (langit), Al Ardh (bumi), Al jamiat (universal).

Hampir jarang orang menyadari akan dirinya sebenarnya sangat luas, akan tetapi kesadaran ini telah lama menyesatkan fikiran kita yang menganggap bahwa diri kita sebatas apa yang tergambar secara kasat mata saja, padahal lebih dari yang ia bayangkan, bahwa manusia baik logam, tumbuhan dan gunung adalah sebetulnya terdiri dari suatu untaian kejadian-kejadian atau proses. Dimana segala alam lahir ini tersusun oleh senyawa-senyawa kimiawi yang dinamai zarrah (atom). Dan atom-atom ini dalam analisa terakhir adalah satu unit tenaga listrik, yang energi positifnya (proton) berjumlah sebanyak energi negatifnya (electron) di dalam atom ini-setiap detik terjadi loncatan dan pancaran (chark and spark) secara terus menerus. Itulah semburan-semburan yang tidak ada hentinya dari daya listrik. Manusia tidak mampu melihat semburan atau loncatan yang tidak putus-putus dengan kecepatan yang sangat luar biasa ini dengan kasat mata biasa, kecuali dengan kesadaran ilmu yang cukup – sebagaimana Al qur’an mengungkapkan tentang gunung yang dianggap oleh orang awam separti diam tak bergerak :

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awam.” (QS. An Naml:88)

Secara fisik, manusia bersifat luas dan rohani meliputi keluasan alam semesta.

Demikian yang sedikit saya tahu, mudah-mudahan bahasa Sunda lebih memungkinkan mengisi makna bahasa Arab yang tinggi nilai balaghahnya… hehehe…

Comments are closed.